Berita Entrepreneur - Tak ada yang menyangka dulu bermula dari modal awal Rp50 ribu, pemilik PT Accupunto International, Yos S Theosabrata kini telah memiliki showroom furnitur di mal mewah.
Ia memulai bisnis dari ruangan berukuran 3x5 meter. Jangan bayangkan furnitur yang diproduksi berasal dari bahan baku yang bagus dan mutu kayu yang baik seperti sekarang, namun berasal dari kayu bekas. Usahanya bukan dicapai instan, namun berdasarkan polesan waktu semenjak ia memulai usaha pada 1971.
Awalnya ia bisa menjual cukup banyak furnitur kayu dan mempekerjakan satu orang karyawan. "Dari satu orang karyawan, akhirnya terus meningkat sampai punya showroom seperti sekarang," ujar Yos.
Sebenarnya sejak dulu Yos hanya berkecimpung di pembuatan furnitur. Sampai suatu saat, anaknya, Leonard Theosabrata, yang kuliah design interior memberi warna baru bagi bisnisnya. Ia lalu mengembangkan perusahaan ke arah design interior.
Showroom Accupunto sendiri terletak di dua mal besar yaitu Grand Indonesia dan Gandaria City. Uniknya, Yos enggan memaparkan berapa pendapatan usahanya tiap bulan. Alasannya, uang bukan salah satu faktor kesuksesan, tidak bisa dijadikan patokan kesuksesan dan kebahagiaan.
"Yang membuat saya tidak mau diwawancara karena seolah-olah uang adalah satu-satunya pengukur kesuksesan seseorang," ujarnya.
Ia memegang prinsip bahwa kesuksesan adalah bagaimana seseorang bisa bermanfaat, mengangkat, dan dicintai oleh orang lain. Sukses, lanjutnya, bukanlah menjadi kaya raya, bergelimang harta, namun bagaimana meninggalkan sesuatu yang bermanfaat bagi generasi selanjutnya.
Dalam menjalankan usahanya, Yos tidak sendiri, karena di belakangnya banyak perajin menjadi pemasok untuknya. Kerajinan rotan bambu dan kayu berasal dari Sukabumi, dan berbagai daerah lain.
Menurutnya, jika ada pekerjaan yang bisa dijalankan perajin, maka ia akan memberikan pekerjaan ke para perajinnya. "Kecuali hal-hal yang membutuhkan presisi dan alat berat baru, kami produksi di pabrik sendiri," ujarnya.
Saat ini, ia lebih senang menjadi desainer, pengerjaan dilakukan perajin. "Biasanya saya pesan sama mereka modelnya seperti ini, cara membuatnya seperti ini," ujarnya.
Produknya tak hanya dipasarkan di dalam negeri, namun juga ekspor ke berbagai negara. Tujuan paling besar adalah ke Eropa. Produknya menempati showroom furnitur terkenal di benua biru itu. Krisis Eropa tak banyak berpengaruh ke penjualannya. "Hanya terpengaruh sedikit," imbuhnya.
Berita Enterpreneur - Showroom Furnitur Dimulai Dari Modal Rp 50.000